MerdekaOto – Tiga puluh orang duduk dalam satu ruangan pada 9 Juni 2026. Sebagian menggunakan tongkat putih, sebagian lainnya datang dengan alat bantu mobilitas. Mereka bukan peserta seminar biasa. Mereka adalah wirausaha penyandang disabilitas yang tengah belajar membaca laporan keuangan, mengenali jebakan risiko finansial, dan melindungi usaha mereka dari ancaman digital. Bukan sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pelaku bisnis yang sedang mengasah kapasitas.
Itulah gambaran awal dari MPM BISA, singkatan dari Bisnis Inklusif Siap Aksi, program baru yang diluncurkan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) sebagai perluasan dari inisiatif CSR unggulan mereka, Life Skill Training Center atau LSTC. Program ini secara khusus menyasar kelompok yang selama ini kerap luput dari ekosistem pelatihan bisnis: wirausaha dari komunitas teman netra dan teman daksa.
LSTC sendiri bukan program kemarin sore. Sejak 2015, inisiatif ini telah melewati beberapa fase perluasan, dari mencetak mekanik, membuka akses kemitraan pengemudi di MPMRent, hingga menyentuh komunitas ojek online, taksi online, dan mahasiswa dengan pelatihan literasi keuangan. Tahun ini, MPMX memutuskan mendorong jangkauannya lebih jauh ke kelompok yang akses ekonominya masih sering terpotong di tengah jalan.

Peserta MPM BISA tidak dipilih sembarangan. Proses rekrutmen yang berlangsung sepanjang Mei 2026 mencakup seleksi administrasi dan wawancara mendalam untuk menilai kebutuhan, potensi, serta motivasi masing-masing calon. Hasilnya adalah 30 wirausaha terpilih yang kini menjalani program tiga bulan bersama, dari pelatihan, enrichment, mentoring, penjurian, hingga pemberian hibah, sebelum seluruh rangkaian berakhir Juli 2026.
MPMX menggandeng Mien R. Uno Foundation sebagai mitra pelaksana. Kolaborasi ini bukan formalitas. Yayasan yang berpengalaman di bidang pemberdayaan wirausaha itu turut merancang pendekatan program agar relevan dengan kondisi nyata peserta di lapangan.
Natalia Lusnita, GM Corporate Communication and Sustainability MPMX, menegaskan bahwa MPM BISA sejak awal tidak dirancang sebagai program pelatihan satu arah. “Kami ingin mengambil bagian dalam memperkuat kapasitas teman-teman penyandang disabilitas pelaku UMKM melalui berbagi pengetahuan terkait literasi, baik dalam mengelola usaha, memahami peluang, membangun daya saing, maupun mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” katanya.

Natalia melanjutkan bahwa MPMX percaya setiap pelaku usaha menyimpan potensi besar, dan akses terhadap pengetahuan adalah kunci untuk membuka potensi itu. “Bagi MPMX, keberlanjutan yang sesungguhnya dibangun melalui kesempatan yang setara, pemberdayaan, dan penciptaan dampak yang dapat dirasakan secara nyata. Harapannya, program ini dapat menjadi bagian kecil dari upaya bersama untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif,” jelasnya.
Pelatihan tatap muka yang berlangsung dua hari, 9 dan 10 Juni 2026, mencakup lima materi utama: literasi keuangan, manajemen risiko finansial, keamanan digital, etika digital, dan etika bisnis. Kurikulum ini disusun agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan praktis dalam mengelola usaha di tengah ekosistem digital yang terus bergerak cepat.
Yang membedakan MPM BISA dari program CSR serupa adalah keterlibatan langsung karyawan MPMX. Sejumlah pegawai turun sebagai volunteer fasilitator yang mendampingi peserta selama sesi berlangsung, sementara sebagian lainnya berperan sebagai trainer. Ini bukan sekadar urunan waktu luang. Program ini menurut MPMX dirancang menjadi ruang belajar dua arah: para volunteer sendiri membawa pulang pelajaran tentang ketangguhan, kreativitas, dan cara pandang terhadap peluang yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang kerja biasa.

Sebagai puncak program, tiga peserta terpilih akan mendapatkan dana hibah untuk pengembangan usaha. Pemilihan penerima tidak didasarkan pada satu presentasi tunggal, melainkan dari penilaian menyeluruh sepanjang program yang mencakup komitmen, konsistensi, dan kemampuan mengaplikasikan materi pelatihan ke dalam rencana bisnis yang nyata.
Angka tiga penerima hibah memang kecil dibanding 30 peserta. Namun dalam kerangka program semacam ini, bukan hanya pemenang yang pulang dengan sesuatu yang berharga. Pemahaman tentang cara mengelola arus kas, mengenali risiko pinjaman, atau melindungi data usaha dari ancaman siber adalah bekal yang dibawa semua peserta, apapun hasil penilaian akhir.
Penyandang disabilitas di Indonesia menghadapi rintangan berlapis dalam membangun usaha: keterbatasan akses pelatihan, minimnya pendampingan bisnis yang ramah disabilitas, hingga infrastruktur digital yang belum sepenuhnya inklusif. Program seperti MPM BISA tidak akan menyelesaikan semua itu dalam tiga bulan. Tapi ia memberi bukti bahwa perusahaan swasta bisa mengambil peran yang lebih bermakna dari sekadar donasi tahunan yang tercantum dalam laporan keberlanjutan.

