MerdekaOto – Ada satu jenis kecemasan yang jarang dibahas terbuka dalam industri otomotif, tapi nyata dirasakan oleh setiap orang yang baru saja beralih ke kendaraan listrik. Namanya bisa disebut range anxiety, atau lebih luas lagi, ketidaktahuan soal cara merawat “jeroan” mobil yang jauh berbeda dari mesin konvensional.
Baterai, sistem kelistrikan, hingga pembaruan perangkat lunak adalah dunia baru bagi kebanyakan konsumen Indonesia yang selama puluhan tahun terbiasa dengan logika mesin bensin. Chery Indonesia tampaknya menyadari betul persoalan psikologis ini, dan meresponsnya bukan lewat iklan atau diskon, melainkan lewat pendekatan yang lebih personal: mengumpulkan pemilik mobil dalam satu ruangan, lalu mengajari mereka memahami kendaraannya sendiri.
Pada 21 Juni 2026, Chery bersama diler Trimegah BSD dan komunitas pengguna J6EVO menggelar kegiatan general check-up sekaligus edukasi teknis khusus untuk pemilik Chery J6. Kegiatan ini bukan sekadar servis gratis biasa, melainkan bagian dari program bertajuk Chery Family Care dan With Chery With Love (WCWL), sebuah inisiatif yang secara eksplisit menyasar rasa aman dan kenyamanan psikologis pemilik kendaraan listrik, bukan cuma kondisi fisik mobilnya.

Vice Country Director Chery Business Unit, Budi Darmawan Jantania, menjelaskan bahwa seiring pertumbuhan basis konsumen dan ekspansi jaringan diler yang ditargetkan mencapai 120 lokasi tahun ini, perusahaan merasa perlu memperkuat kualitas layanan purnajual lewat kolaborasi aktif dengan diler dan komunitas.
Menurutnya, tujuan program ini bukan sekadar memberi layanan, tapi memastikan konsumen memiliki pemahaman yang lebih baik soal teknologi dan perawatan kendaraan mereka, sehingga bisa menjalani masa kepemilikan dengan lebih percaya diri.
Kalimat “lebih percaya diri” ini menarik untuk digarisbawahi. Dalam industri kendaraan listrik, kepercayaan diri konsumen sering kali menjadi barang langka. Berbeda dengan mobil bensin yang perawatannya sudah dipahami turun temurun lewat bengkel-bengkel kecil di pinggir jalan, EV menuntut pemilik memahami hal-hal baru seperti kapan waktu ideal mengisi daya, bagaimana menjaga kesehatan baterai jangka panjang, hingga pentingnya pembaruan software layaknya smartphone.
Tanpa edukasi yang memadai, kecemasan semacam ini bisa menjadi penghambat besar adopsi EV secara masif, bahkan lebih besar dari sekadar soal harga atau ketersediaan charging station.
Dalam sesi edukasi yang dipandu tim teknis Chery, peserta diperkenalkan pada teknologi All-Aluminum Alloy Chassis yang menjadi fondasi Chery J6 Series. Material aluminium dipilih bukan tanpa alasan, sebab menawarkan bobot lebih ringan, ketahanan korosi lebih baik, dan durabilitas tinggi di berbagai kondisi jalan serta cuaca, termasuk iklim tropis Indonesia yang keras terhadap logam.

Klaim teknisnya cukup spesifik: ketahanan terhadap korosi meningkat hingga 30 tahun, sementara kekakuan struktur bertambah hingga 30 persen. Bobot yang lebih ringan juga berdampak langsung pada handling, karena menurunkan titik berat kendaraan sehingga mengurangi gejala limbung atau body roll saat menikung, dan menghasilkan karakter berkendara yang lebih lincah namun tetap nyaman.
Yang menarik, penjelasan semacam ini biasanya hanya muncul di brosur teknis atau presentasi peluncuran produk, bukan disampaikan langsung kepada pemilik mobil yang sudah lama menggunakan kendaraannya. Dengan membuka akses edukasi ini kepada komunitas J6EVO, Chery seolah memperlakukan konsumennya bukan sebagai pembeli pasif yang cukup puas dengan kunci mobil di tangan, melainkan sebagai pengguna yang berhak memahami cara kerja kendaraan mereka secara mendalam. Pendekatan ini pada akhirnya bisa membangun loyalitas yang jauh lebih kuat dibanding sekadar promosi diskon servis.
Selain sesi edukasi, peserta juga mendapat layanan general check-up langsung dari tim teknis Chery bersama diler Trimegah BSD. Pemeriksaan mencakup kondisi baterai 12V, sistem kelistrikan, rem, ban, suspensi, hingga diagnosis menyeluruh sistem kendaraan. Tak berhenti di situ, peserta turut diberi pemahaman praktis soal cara merawat kendaraan listrik sehari-hari, mulai dari kebiasaan mengisi daya yang tepat, urgensi memperbarui perangkat lunak secara berkala, sampai anjuran melakukan servis rutin setiap 12 bulan atau 15.000 kilometer.
Program ini juga tidak lepas dari jaminan purnajual yang ditawarkan Chery untuk J6, termasuk garansi kendaraan enam tahun atau 150.000 kilometer, garansi baterai, serta layanan perawatan gratis selama lima tahun atau 75.000 kilometer khusus untuk unit EV, ditambah garansi baterai delapan tahun atau 160.000 kilometer. Kombinasi antara jaminan purnajual yang panjang dan edukasi berkelanjutan semacam ini menunjukkan bahwa Chery tengah membangun ekosistem kepercayaan, bukan sekadar menjual unit kendaraan lalu melepas tangan.
Jika dilihat dari sudut yang lebih luas, langkah Chery menggandeng komunitas pengguna sebagai mitra strategis dalam layanan purnajual bisa jadi menandakan pergeseran cara pabrikan otomotif memandang loyalitas konsumen di era kendaraan listrik. Alih-alih hanya mengandalkan jaringan diler formal, keterlibatan komunitas independen seperti J6EVO justru menciptakan jalur komunikasi dua arah yang lebih organik, di mana masukan konsumen bisa langsung sampai ke telinga produsen.
Ke depan, Chery menyatakan akan terus mengembangkan program Chery Family Care melalui rangkaian kegiatan edukasi dan pemeriksaan kendaraan serupa, sembari memperkuat komunikasi dengan komunitas untuk memahami kebutuhan konsumen yang terus berkembang seiring pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Tanah Air.

