MerdekaOto – Komitmen industri nasional terhadap transisi energi bersih kian nyata. PT Industri Karet Deli (IKD) resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 10,004 MWp di fasilitas produksinya di Medan, Sumatera Utara. Dengan kapasitas tersebut, PLTS Atap milik IKD tercatat sebagai yang terbesar di sektor industri di provinsi ini hingga saat ini.
Lebih dari sekadar instalasi teknologi, pengoperasian PLTS Atap ini menandai langkah strategis IKD dalam menekan ketergantungan pada energi fosil, mengurangi emisi karbon, serta memperkuat praktik industri berkelanjutan. Energi bersih yang dihasilkan dimanfaatkan langsung untuk mendukung operasional pabrik, sehingga efisiensi energi dan ketahanan pasokan listrik dapat berjalan beriringan.
Sebagai produsen ban nasional dengan merek Swallow, Delium, dan Deli Tire, IKD melayani beragam segmen, mulai dari sepeda, sepeda motor, mobil dan truk, hingga kebutuhan ban industri. Produk-produknya telah dipasarkan luas, baik di dalam negeri maupun ekspor, dengan komitmen terhadap kualitas, keselamatan, dan keberlanjutan dalam proses produksi.
PLTS Atap yang rampung dibangun sepanjang 2025 ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 12–13 GWh listrik per tahun. Dari sisi lingkungan, kontribusinya signifikan: potensi penurunan emisi karbon mencapai 10.000 ton CO₂ per tahun, atau setara dengan penanaman sekitar 450.000 pohon, mengacu pada faktor emisi sistem ketenagalistrikan nasional.
Direktur IKD, Darkiat Tjangnaka, menyebut pengoperasian PLTS Atap ini sebagai tonggak penting transformasi energi perusahaan. Menurutnya, pemanfaatan energi surya tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan listrik untuk kegiatan produksi. Ke depan, IKD masih membuka peluang penambahan kapasitas seiring perkembangan kebutuhan energi dan teknologi. “Kami meyakini industri masa depan harus unggul secara ekonomi sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya.
Langkah IKD mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Medan. Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Medan, Citra Effendy Capah, menilai inisiatif ini sebagai contoh konkret transformasi energi ramah lingkungan di sektor industri, sekaligus sejalan dengan arah pembangunan daerah. Pemerintah daerah berharap langkah serupa dapat menginspirasi pelaku usaha lain untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Dari sisi ketenagalistrikan, PT PLN (Persero) menilai pengembangan PLTS Atap IKD sebagai wujud nyata komitmen pelanggan industri dalam mendukung transisi energi dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Manager PLN UP3 Medan Utara, Hiro Pingkir Pardede, menyebut IKD—dengan kapasitas daya terpasang 22,86 MW—memiliki potensi besar dalam pengembangan energi bersih terintegrasi, termasuk mendorong pemanfaatan kendaraan listrik di lingkungan industri.
Proyek PLTS Atap ini dikembangkan oleh PT Greenroof Energy Indonesia, perusahaan pengembang energi surya yang merupakan joint venture antara Norfund dan Climate Fund Managers, dengan dukungan Uni Eropa. Seluruh sistem dirancang dan dibangun sesuai standar teknis, keselamatan, dan regulasi ketenagalistrikan nasional.
Dengan beroperasinya PLTS Atap berkapasitas 10 MWp ini, IKD menegaskan posisinya sebagai pelaku industri yang tidak hanya fokus pada kinerja bisnis, tetapi juga aktif mengambil peran dalam pengurangan emisi gas rumah kaca dan penguatan ekosistem energi terbarukan nasional. Langkah ini memperlihatkan bahwa transformasi hijau di sektor industri bukan lagi wacana, melainkan agenda nyata yang mulai dijalankan dari dalam pabrik.

