MerdekaOto – Angka Rp 538 juta untuk sebuah SUV hybrid bukan keputusan kecil. Bagi sebagian besar keluarga kelas menengah Indonesia, itu setara dengan tiga hingga empat tahun tabungan serius. Maka pertanyaan yang relevan bukan apa yang diiklankan JETOUR tentang T1 i-DM, melainkan apa yang secara konkret diterima pembeli pada hari pengiriman dan seterusnya.
Dari sisi teknologi penggerak, konsumen mendapatkan sistem hybrid yang tidak memerlukan kebiasaan baru. Mesin ACTECO 1.5 TGDI 136 PS dan motor listrik 204 PS bekerja bersama secara otomatis melalui enam skenario adaptif tanpa perlu perpindahan mode manual. Di kemacetan kota, kendaraan berjalan senyap menggunakan listrik murni. Di jalan tol, mesin bensin mengambil alih tanpa rasa tersendat. Pengisian baterai pun bisa dilakukan di SPKLU dalam 27 menit untuk mengisi dari 30 ke 80 persen, atau cukup membiarkan sistem regeneratif bekerja sendiri selama berkendara normal.

Baterai LFP 18,4 kWh yang digunakan memiliki karakteristik yang berbeda dari baterai NMC yang lebih umum: lebih stabil secara kimiawi, lebih tahan panas, dan diklaim memiliki siklus pengisian yang lebih panjang. Sertifikasi IP68 berarti baterai ini terlindungi dari rendaman air hingga kedalaman tertentu, relevan untuk kondisi banjir yang kerap dihadapi pengemudi di kota-kota besar Indonesia.
Di dalam kabin berukuran 4.705 x 1.967 x 1.843 mm dengan wheelbase 2.800 mm, konsumen mendapatkan ruang yang cukup untuk lima penumpang dewasa tanpa berdesakan, bagasi 1.455 liter, dan ketenangan akustik yang dijaga 79 titik peredam suara serta kaca berlapis ganda. Tingkat kebisingan di bawah 40 dB saat idle bukan angka kosong, itu terasa langsung saat berbicara normal tanpa perlu meninggikan suara di kabin.
Fitur yang sering dianggap sekunder ternyata relevan untuk penggunaan harian: Dual Zone AC untuk pasangan yang berbeda preferensi suhu, 24 Hour Parking AC untuk yang sering menunggu dalam mobil di cuaca panas, dan leg rest kursi depan untuk penumpang yang kerap melakukan perjalanan jauh. Varian i-DM juga dilengkapi V2L 3,3 kW, kemampuan yang nilainya baru terasa saat listrik padam atau saat berkemah tanpa sumber daya eksternal.

Dari sisi keselamatan, bintang lima ASEAN NCAP dan 13 fitur ADAS bukan sekadar nilai jual. Itu berarti mobil ini telah diuji secara independen dan hasilnya bisa diverifikasi publik, berbeda dengan klaim keselamatan yang hanya muncul di materi promosi.
Pada akhirnya, Rp 538 juta untuk JETOUR T1 i-DM membeli sebuah proposi yang jelas: teknologi hybrid tanpa kurva belajar, kabin yang dirancang untuk perjalanan panjang, dan validasi keselamatan dari lembaga independen. Yang belum bisa dijawab sepenuhnya hari ini adalah pengalaman purna jual jangka panjang, dan itu adalah variabel yang hanya waktu dan jaringan servis JETOUR yang bisa membuktikannya.

