MerdekaOto – Satu angka dari laporan Spotify Loud & Clear 2026 layak untuk dibaca dua kali: royalti artis Indonesia di platform ini sudah lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Bukan dua kali lipat sejak platform itu masuk Indonesia satu dekade lalu. Tapi dalam tiga tahun saja.
Spotify merilis laporan tahunan itu dalam sebuah acara di Jakarta pada 25 Juni 2026, dihadiri Managing Director Spotify Southeast Asia Gustav Back, musisi Reality Club dan Idgitaf, serta Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha. Laporan ini adalah potret paling komprehensif yang tersedia saat ini tentang bagaimana uang bergerak di industri musik streaming Indonesia.
Berikut yang perlu diketahui dari data tersebut.
Musik Indonesia mendominasi konsumsi domestik dengan cara yang tidak banyak industri kreatif lokal bisa klaim. Delapan puluh persen lagu yang masuk ke tangga lagu Daily Top 50 Indonesia di Spotify sepanjang tahun lalu adalah karya artis Indonesia. Angka itu bukan hasil kebijakan proteksi atau kuota lokal. Ia lahir dari pilihan bebas jutaan pendengar setiap harinya. Dalam lanskap digital di mana konten internasional bisa diakses semudah konten lokal, dominasi 80% adalah pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh.
Pertumbuhan royalti mengikuti pola yang konsisten. Dibanding tahun sebelumnya, royalti artis Indonesia naik lebih dari 16%. Secara kumulatif dalam tiga tahun, angkanya sudah melampaui dua kali lipat. Ini bukan lonjakan sesaat yang didorong satu momen viral. Ini pertumbuhan yang berkelanjutan, yang artinya ada lebih banyak pendengar yang mendengarkan lebih banyak musik dari lebih banyak musisi Indonesia secara berulang.

Yang mengubah dimensi cerita ini adalah dari mana royalti itu datang. Lebih dari 60% royalti artis Indonesia di Spotify berasal dari pendengar di luar negeri. Amerika Serikat, Filipina, Jerman, Inggris, dan Prancis masuk dalam daftar pasar internasional yang secara aktif mengonsumsi musik Indonesia. Ini bukan angka yang bisa dijelaskan semata oleh diaspora. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi, yaitu musik Indonesia menemukan pendengar yang tidak pernah merencanakan untuk menemukannya.
Tahun lalu, musisi Indonesia ditemukan lebih dari 6,3 miliar kali oleh pendengar baru di Spotify. Angka itu mencakup penemuan dari seluruh dunia, sebagian besar dari dalam negeri, tapi dengan porsi internasional yang terus bertumbuh. Gustav Back menyebut kombinasi dua tren ini, loyalitas pendengar domestik yang kuat sekaligus ekspansi ke pasar internasional, sebagai temuan paling menarik dari laporan tahun ini.
“Penggemar di Indonesia terus mendukung musisi lokal, sementara musik Indonesia juga semakin banyak ditemukan dan didukung oleh pendengar di berbagai negara. Kedua tren ini menunjukkan bagaimana musik Indonesia menjangkau lebih banyak pendengar dan menciptakan peluang baru untuk musisi tanah air,” ujarnya.
Di balik angka-angka itu ada pertanyaan tentang bagaimana musisi memanfaatkan momentum ini untuk membangun karier yang tahan lama, bukan sekadar momen. Reality Club dan Idgitaf hadir dalam acara ini untuk berbagi perspektif dari sisi yang paling langsung merasakannya.
Reality Club, yang memulai perjalanan musiknya pada 2016 tepat ketika Spotify masuk Indonesia, menyebut fitur Listening Parties sebagai salah satu cara mereka membangun koneksi langsung dengan pendengar dari berbagai kota secara bersamaan. Fitur SongDNA yang lebih baru juga disebut membuka cara-cara baru bagi pendengar untuk menemukan musik mereka melalui karakteristik musikal, bukan hanya popularitas.
Idgitaf mewakili generasi yang tidak pernah merasakan industri musik sebelum era streaming. Ia masuk program RADAR Indonesia Spotify pada 2022 dan menyebut dukungan platform itu berlanjut hingga perilisan album terbarunya, dari fase pra-rilis hingga pasca-rilis. “Streaming telah membantuku dikenal oleh pendengar baru yang belum pernah dijangkau, sekaligus mempertemukanku dengan para penggemar yang mungkin belum bisa aku temui secara langsung,” katanya.
Kossy Ng, Head of Music Spotify Southeast Asia, menempatkan semua ini dalam kerangka yang lebih strategis. Penemuan musik, menurutnya, hanyalah langkah pertama. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya: apakah pendengar baru itu kembali, menyebarkan musiknya, dan akhirnya menjadi bagian dari komunitas penggemar yang aktif. Itulah yang ia sebut sebagai fandom berkelanjutan, dan itulah yang membedakan karier jangka panjang dari sekadar lagu yang sempat viral.
Menteri Riefky dalam sambutannya menempatkan data ini dalam konteks agenda pemerintah yang lebih besar: mendorong talenta lokal dari tingkat daerah ke panggung global. Kalimat itu terdengar seperti visi kebijakan, tapi laporan Loud & Clear memberinya dasar empiris yang konkret.
Tiga tahun, royalti dua kali lipat. Enam koma tiga miliar penemuan dalam setahun. Enam puluh persen royalti dari luar negeri. Angka-angka itu bukan sekadar laporan kesehatan industri. Mereka adalah argumen bahwa sesuatu yang struktural sedang berubah dalam cara musik Indonesia diproduksi, didistribusikan, dan dihargai, baik di dalam maupun di luar negeri.

