MerdekaOto – Di tengah kompleksitas tantangan global, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI terus berbenah. Tidak hanya memperbarui kurikulum dan metode, tetapi juga memperluas inklusivitas peserta pendidikan kepemimpinan nasional. Hasilnya, Lemhannas kini menjadi titik temu strategis antara birokrasi, militer, akademisi, hingga kalangan pengusaha — semua dalam satu semangat: mencetak pemimpin Indonesia masa depan.
Senin (14/07/2025), suasana Istana Wakil Presiden tampak berbeda. Sebanyak 210 peserta Program Pendidikan Pemantapan dan Penyiapan Pimpinan Nasional (P3N dan P4N) berkumpul untuk mengikuti kuliah umum dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam pembekalannya, Wapres Gibran menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi kepemimpinan di era disrupsi.
“Kita harus mengakhiri egosektoral. Tidak ada satu sektor pun yang bisa berdiri sendiri dalam menghadapi tantangan hari ini. Kolaborasi adalah kunci,” ujar Gibran.
Menurutnya, sinergi antarlembaga seperti yang ditunjukkan dalam program ketahanan pangan — yang melibatkan TNI dan Polri — adalah contoh nyata bagaimana koordinasi lintas sektor dapat memperkuat daya tahan nasional. Ia juga menyebut pentingnya peran pemimpin yang mau turun ke lapangan, menyentuh langsung denyut kebutuhan rakyat.
Namun, yang paling mencolok dalam program P3N kali ini adalah kehadiran para pelaku usaha nasional. Salah satu di antaranya adalah Ridho Pandoe, pengusaha muda yang ikut serta sebagai peserta P3N. Ridho melihat keterlibatan dunia usaha dalam pendidikan kepemimpinan sebagai langkah strategis yang sangat dibutuhkan bangsa.
“Kami peserta Lemhannas P3N — siap mendukung program pemerintah dan para calon pemimpin Indonesia. Dunia usaha harus ambil peran aktif, bukan sekadar jadi penonton,” ujar Ridho kepada media.
Ia menilai Lemhannas bukan lagi sekadar lembaga militeristik atau birokratik, melainkan ruang kolaboratif yang menghubungkan berbagai elemen bangsa untuk menyatukan visi menuju Indonesia Emas 2045.
Gubernur Lemhannas, Tubagus Ace Hasan Syadzily, menyebut bahwa P3N dan P4N adalah wajah baru pendidikan kepemimpinan nasional. Dulu dikenal sebagai PPSA dan PPRA, kini program tersebut diperbarui dengan pendekatan yang lebih interaktif, aplikatif, dan terbuka terhadap aktor-aktor non-tradisional dalam sistem nasional.
“Kami melakukan transformasi besar, tidak hanya dalam format dan durasi, tapi juga dalam membuka ruang partisipasi lebih luas dari unsur masyarakat sipil dan pelaku pembangunan lainnya,” kata Tubagus Ace.
Menurutnya, pendekatan hibrida yang diterapkan tak hanya meningkatkan fleksibilitas, tetapi juga memperkaya perspektif diskusi strategis, mulai dari isu energi, pangan, geopolitik, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Keterlibatan peserta dari dunia usaha juga memberikan warna baru dalam dialog pembangunan nasional. Dengan bekal pengalaman menghadapi disrupsi pasar dan transformasi digital, mereka dianggap mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pemikiran strategis bangsa.
“Kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan jalur struktural. Diperlukan pemimpin lintas bidang yang punya empati, inovasi, dan kemampuan eksekusi nyata,” tegas Wapres Gibran.
Acara yang juga dihadiri Wakil Gubernur Lemhannas Edwin, Sekretaris Utama R. Z. Panca Putra S., dan sejumlah pejabat dari Sekretariat Wapres ini menjadi penanda penting bahwa masa depan kepemimpinan Indonesia kini lebih terbuka, lebih kolaboratif, dan lebih inklusif.
Dengan kolaborasi lintas sektor yang kian menguat — dari istana hingga ruang usaha — transformasi Lemhannas bukan hanya tentang mencetak pemimpin, tapi membentuk ekosistem kepemimpinan yang utuh dan berdaya saing global.

