MerdekaOto – Di tengah hiruk pikuk GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang, sebuah SUV compact berwarna biru metalik berdiri di antara enam belas unit yang dipamerkan Mitsubishi.
Namanya New Xforce Hybrid Electric Vehicle. Harganya Rp445 juta, angka yang bagi sebagian orang mungkin terasa mahal untuk sekadar SUV B-segment. Tapi di balik banderol itu, ada cerita yang jauh lebih besar dari sekadar produk baru: Indonesia baru saja naik kelas dalam peta elektrifikasi Mitsubishi di Asia Tenggara.
Saat membuka gelaran itu, President Director PT MMKSI, Atsushi Kurita, menyampaikan bahwa perjalanan Mitsubishi di Indonesia selama ini selalu ditandai oleh kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan masyarakat.
“Kehadiran New Xforce dengan dua pilihan teknologi sekaligus, ICE dan HEV, menjadi penanda bahwa perusahaan tengah memasuki babak baru, dengan portofolio produk yang lebih lengkap dan orientasi yang semakin berfokus pada pengalaman pelanggan,” ujar Atsushi Kurita di ICE BSD beberapa waktu lalu.
Xforce HEV memang bukan wajah baru di kawasan Asia Tenggara. Thailand sudah lebih dulu kedatangan model ini sejak Maret 2025. Tapi ada perbedaan mendasar yang sering luput dari perhatian: unit yang dijual di Thailand adalah produk impor, sementara yang mendarat di Indonesia dirakit di negeri sendiri.
Ini menjadikan Xforce HEV sebagai HEV pertama yang diperkenalkan Mitsubishi ke pasar Indonesia sekaligus HEV pertama yang benar-benar diproduksi di tanah air. Bukan cuma dijual di sini tapi dibuat di sini.

Bekasi: Dari Kawasan Industri Jadi Simpul Elektrifikasi
Perakitan Xforce HEV dipercayakan kepada PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, dengan fasilitas produksi berlokasi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sekilas terdengar seperti detail teknis yang biasa saja, pabrikan otomotif memang selalu punya pabrik. Tapi konteksnya yang membuat ini istimewa.
Fasilitas di Bekasi ini disebut-sebut sebagai hub produksi ASEAN bagi Mitsubishi. Artinya, peran Bekasi tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan pasar domestik. Ada ambisi yang lebih besar: menjadikan Indonesia sebagai titik distribusi teknologi hybrid Mitsubishi ke negara-negara tetangga.
Ambisi ini bukan isapan jempol. Unit Xforce yang beredar di pasar Filipina, misalnya, selama ini memang diimpor dari Indonesia. Dikutip dari beberapa sumber, ketika Xforce HEV resmi meluncur di Indonesia, media otomotif di Filipina langsung mempertanyakan satu hal: apakah versi hybrid ini juga akan menyusul masuk ke pasar mereka, mengikuti pola distribusi yang sudah berjalan?
Spekulasi serupa juga muncul dari Malaysia. Di sana, Xforce untuk saat ini masih hanya tersedia dengan mesin bensin konvensional, berbeda dengan Thailand yang justru sebaliknya, hanya menjual versi hybrid. Peluncuran di Indonesia sebagai pasar ASEAN kedua yang mendapat Xforce HEV memunculkan dugaan kuat bahwa Malaysia bisa jadi giliran berikutnya.
Dari sinilah pola besar itu terlihat: Indonesia bukan lagi sekadar salah satu pasar di antara banyak pasar. Ia mulai menjelma jadi simpul yang menentukan ke mana arah ekspansi hybrid Mitsubishi selanjutnya di kawasan.

Teknologi Kelas Atas, Dirakit dari ‘Halaman’ Sendiri
Yang membuat pencapaian ini lebih berarti adalah asal-usul teknologi yang dibawanya. Sistem hybrid pada Xforce HEV bukan racikan baru yang asal tempel. Ia diturunkan dan disempurnakan dari pengalaman Mitsubishi mengembangkan teknologi plug-in hybrid electric vehicle selama empat generasi.
Artinya, DNA yang sama yang selama ini identik dengan model-model PHEV kelas atas Mitsubishi, kini hadir dalam paket SUV yang jauh lebih terjangkau dan dirakit tak jauh dari rumah konsumennya sendiri.
Bagi pembeli, ini punya makna praktis yang nyata. Produksi lokal biasanya berarti rantai pasok komponen yang lebih pendek, ketersediaan suku cadang yang lebih rapat, dan jaringan servis yang lebih siap menangani teknologi yang relatif baru ini. Teknologi canggih tidak lagi harus didatangkan jauh-jauh dari luar negeri untuk bisa dinikmati.
Meski begitu, ada realitas yang tak boleh diabaikan begitu saja di tengah euforia soal industrialisasi ini. Harga Xforce HEV di angka Rp445 juta tetap lebih mahal dibanding varian bensinnya, Exceed di Rp388 juta dan Ultimate di Rp399 juta. Selisih puluhan juta rupiah ini menjadi pengingat bahwa ‘diproduksi di dalam negeri’ belum otomatis berarti ‘terjangkau untuk semua orang’.
Teknologi hybrid ini masih menyasar segmen konsumen yang punya bujet lebih longgar, meski secara jangka panjang berpotensi menghemat biaya bahan bakar.
Xforce HEV mungkin baru satu model. Tapi status Bekasi sebagai basis produksi hybrid pertama Mitsubishi di Indonesia dan berpotensi jadi hub ekspor ke Filipina, Malaysia, dan pasar ASEAN lain membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah ini akan jadi cetak biru bagi model-model elektrifikasi Mitsubishi berikutnya?

Jika benar, maka yang terjadi di GIIAS 2026 bukan sekadar peluncuran SUV baru. Ia adalah penanda pergeseran peran Indonesia dalam industri otomotif kawasan, dari yang selama ini lebih banyak menjadi tujuan penjualan, menjadi titik nol tempat teknologi itu sendiri lahir dan menyebar.
Bekasi, yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri padat pabrik, kini punya identitas baru: rumah pertama hybrid Mitsubishi di Asia Tenggara.

