MerdekaOto – Banyak merek kendaraan mengklaim produknya cocok untuk kondisi jalan Indonesia. Sedikit yang mau membuktikannya dengan cara seperti yang dilakukan BYD: membawa M6 DM ke Sumatera Utara, melewati tanjakan dan tikungan tajam yang menjadi karakter khas rute lintas Sumatera, sebelum harga kendaraan itu bahkan diumumkan ke publik.
Keputusan memilih Medan sebagai lokasi uji coba bukan tanpa alasan. Kota ini punya dualitas yang jarang dimiliki kota lain: kemacetan urban yang padat di dalam kota, sekaligus rute keluar kota dengan kontur berbukit yang menguji kemampuan mesin dan efisiensi bahan bakar secara bersamaan. Jika teknologi DM bisa bekerja baik di sini, argumen bahwa ia hanya cocok untuk jalan datar perkotaan langsung gugur.
BYD sendiri tidak menyebutkan angka konsumsi bahan bakar spesifik dari uji coba tersebut secara terbuka. Yang mereka tekankan adalah bagaimana teknologi DM 5.0 mampu beradaptasi: dalam kota, motor listrik menjadi penggerak utama; saat tanjakan panjang dan kecepatan tinggi dibutuhkan, mesin bensin masuk membantu. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa pengemudi perlu berpindah mode secara manual.
Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, menjelaskan bahwa Indonesia memang membutuhkan kendaraan yang benar-benar fleksibel. “Indonesia memiliki karakteristik mobilitas yang sangat beragam, mulai dari penggunaan harian di perkotaan hingga perjalanan antarkota dan jarak jauh,” katanya.

Menurutnya, teknologi DM adalah jawaban yang lebih realistis dibanding kendaraan listrik murni bagi konsumen yang sering bepergian jauh namun belum sepenuhnya yakin dengan infrastruktur pengisian daya.
Sebelum tur Sumatera, BYD lebih dulu menggelar sesi uji coba di Jakarta yang melibatkan berbagai kondisi lalu lintas harian. Para peserta merasakan sendiri bagaimana perpindahan antara mode listrik dan bensin berlangsung tanpa kejutan, senyap, dan nyaris tidak terasa. Respons positif dari sesi Jakarta ini yang mendorong BYD memperluas uji coba ke kondisi yang lebih menantang.

Hasilnya, setidaknya menurut BYD, cukup meyakinkan untuk membawa M6 DM ke pasar dengan kepercayaan diri penuh. Pada hari pengumuman harga resmi, BYD juga memberikan apresiasi simbolis kepada 20 perwakilan konsumen awal yang sudah memesan kendaraan ini sebelum harga resmi keluar, sebuah gestur yang menunjukkan bahwa hubungan antara merek dan konsumen sudah terjalin jauh sebelum transaksi formal terjadi.
Yang menarik dari strategi BYD adalah pilihan untuk tidak sekadar memamerkan kendaraan di showroom ber-AC dan membiarkan konsumen bertanya-tanya. Mereka memilih jalan yang lebih keras, secara harfiah, untuk membuktikan klaim efisiensi dan keandalannya. Di pasar yang konsumennya makin kritis dan tak mudah dibuai janji, pendekatan ini bisa jadi pembeda yang sesungguhnya.

