MerdekaOto – Minat terhadap koleksi Formula 1 dan Ferrari di Indonesia tengah mengalami pergeseran menarik. Jika dulu diecast lebih sering diposisikan sebagai barang pajangan, kini koleksi diperlakukan sebagai medium untuk merawat memori, emosi, dan perjalanan personal sebagai penggemar balap.
Perubahan ini berangkat dari satu hal mendasar: keterikatan emosional. Mobil juara dunia, musim penuh rivalitas, atau sosok pembalap ikonik tak lagi sekadar data statistik. Semua itu melekat sebagai cerita. “Bagi banyak kolektor, membeli model mobil F1 atau Ferrari itu sama dengan membeli cerita dan memori. Ada koneksi personal di sana,” ujar Eris Yang, General Manager Bburago Indonesia.
Cara penggemar menikmati F1 juga berubah. Balapan tak lagi berhenti di garis finis hari Minggu. Dinamika tim, strategi, hingga drama sepanjang musim kini dikonsumsi secara harian lewat berbagai kanal digital. Alhasil, setiap musim memiliki karakter dan konteksnya sendiri. “Sekarang fans mengikuti perjalanan tim sepanjang musim, bukan hanya hasil balapan. Itu yang membuat model dari musim tertentu tetap relevan, karena setiap musim punya cerita yang berbeda,” kata Eris.

Di titik inilah storytelling bekerja. Kolektor memilih mobil dari musim tertentu bukan tanpa alasan—bisa karena musim itu sarat rivalitas, penuh drama, atau justru menjadi awal mula mereka jatuh cinta pada F1. “Banyak kolektor memilih musim tertentu karena itu adalah titik awal mereka menjadi fans Formula 1. Ada nilai emosional yang tidak bisa digantikan,” lanjut Eris.
Seiring kedewasaan pasar, kesadaran terhadap keaslian juga meningkat. Kolektor kini semakin selektif, menaruh perhatian besar pada lisensi resmi, akurasi detail, dan kredibilitas merek—terutama untuk Ferrari dan tim-tim F1. “Official licensing, detail yang akurat, dan kredibilitas brand sekarang jadi faktor penting. Kolektor jauh lebih aware soal keaslian,” ujar Eris menegaskan.
Perubahan orientasi ini menandai naik kelasnya budaya koleksi di Indonesia. Diecast tak lagi berdiri sebagai objek mati, melainkan sebagai artefak cerita—tentang musim yang bersejarah, pembalap idola, hingga momen pertama jatuh cinta pada dunia balap. Di balik setiap miniatur, tersimpan narasi yang membuatnya bernilai lebih dari sekadar bentuk.

