MerdekaOto – Di balik angka-angka performa JETOUR T1 i-DM, ada satu keputusan teknis yang jarang mendapat perhatian dalam peluncuran kendaraan baru: pilihan menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) berkapasitas 18,4 kWh, bukan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) yang lebih umum digunakan di kendaraan hybrid dan listrik saat ini.
Pilihan ini bukan kebetulan, dan perbedaannya terasa langsung bagi pengguna di iklim tropis seperti Indonesia.
Baterai LFP memiliki karakteristik kimia yang lebih stabil pada suhu tinggi dibanding NMC. Dalam kondisi parkir di bawah terik matahari atau terjebak kemacetan panjang di siang hari, degradasi baterai LFP berlangsung lebih lambat. Ini penting untuk pasar Indonesia di mana suhu udara rata-rata jauh lebih tinggi dibanding Eropa atau Korea Selatan tempat sebagian besar standar pengujian baterai kendaraan dikembangkan.

LFP juga dikenal memiliki siklus pengisian yang lebih panjang sebelum kapasitasnya menurun secara signifikan. Artinya, baterai pada JETOUR T1 i-DM dirancang untuk tetap bekerja optimal dalam jangka waktu kepemilikan yang lebih panjang tanpa penggantian baterai prematur, sebuah kekhawatiran nyata yang kerap menghantui calon pembeli kendaraan elektrifikasi di Indonesia.
Sertifikasi IP68 yang disematkan pada baterai ini menambah lapisan keyakinan lain: terlindungi dari debu dan rendaman air. Bagi pengemudi yang tinggal di kawasan rawan banjir atau kerap melewati genangan, ini bukan fitur mewah, melainkan kebutuhan dasar.
Konsekuensi dari pilihan LFP memang ada. Baterai jenis ini secara umum memiliki kepadatan energi yang sedikit lebih rendah dibanding NMC, artinya untuk kapasitas yang sama, bobotnya cenderung lebih berat. Namun JETOUR mengkompensasi ini melalui sistem manajemen energi yang terintegrasi antara mesin ACTECO 1.5 TGDI dan Dedicated Hybrid Transmission (DHT), sehingga jarak tempuh listrik murni tetap mencapai 100 km berdasarkan standar WLTC.

Pengisian daya DC fast charging dari 30 hingga 80 persen dalam 27 menit juga menunjukkan bahwa baterai LFP pada T1 i-DM dikelola dengan sistem manajemen termal yang matang, bukan sekadar menuang arus tinggi ke sel baterai tanpa kontrol yang memadai.
“Sistem ini dirancang untuk menghadirkan keseimbangan antara efisiensi dan performa tanpa mengubah kebiasaan berkendara konsumen secara drastis,” ujar Moch Ranggy Radiansyah, Marketing Director PT JETOUR Sales Indonesia. Dalam konteks pilihan teknologi baterai, pernyataan itu punya bobot teknis yang konkret: LFP dipilih bukan untuk mengejar angka puncak di atas kertas, melainkan untuk pengalaman penggunaan jangka panjang yang konsisten di kondisi nyata pasar Indonesia.
JETOUR T1 i-DM ditawarkan seharga Rp 538 juta untuk 500 konsumen pertama, dari harga reguler Rp 558 juta on the road Jakarta.

