MerdekaOto – Pukul tiga pagi. Saat kebanyakan orang terlelap, para salesman Daihatsu justru bersiap menuju pasar. Bukan untuk berbelanja, melainkan menemui pedagang kangkung yang sedang bongkar muat dagangan.
Inilah salah satu cerita dari ‘dapur’ strategi penjualan Daihatsu yang jarang terungkap ke publik. Sri Agung Handayani, Marketing Director sekaligus Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, membuka sedikit tabir tentang bagaimana merek ini mempertahankan dominasinya di pasar otomotif nasional, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini luput dari radar kompetitor.
Bukan Sekadar Angka Penjualan
Hingga April 2026, Daihatsu mencatatkan penjualan ritel sebesar 46.953 unit dengan pangsa pasar 16,3%, mempertahankan posisi nomor dua secara nasional. Di segmen kendaraan komersial, Gran Max Series menguasai 63,3% pasar kendaraan niaga entry level, angka yang mencerminkan kepercayaan pelaku usaha kecil hingga menengah terhadap produk ini.
Yang menarik, Daihatsu juga bertengger di posisi pertama pada dua segmen sekaligus: kendaraan dengan harga hingga Rp300 juta dengan pangsa pasar 32%, dan kendaraan ICE di rentang harga yang sama dengan 38%. Tapi angka-angka ini hanyalah hasil akhir. Di baliknya, ada strategi lapangan yang jauh lebih manusiawi dari sekadar presentasi produk di showroom.
Menembus Wilayah yang Tak Dijamah
Kontribusi penjualan Daihatsu di daerah rural dan remote mencapai 46%, jauh di atas rata-rata industri yang hanya 33%. Penjualan di luar Jabodetabek menyentuh 81%, sementara total pasar nasional hanya mencatat 67%. Angka-angka ini bukan kebetulan.
Tahun lalu, Daihatsu melakukan survei menyeluruh ke seluruh penjuru Indonesia untuk memahami satu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya kekuatan tim mereka dalam menjangkau pasar rural?
Hasilnya mengejutkan sekaligus membuka mata. Di banyak daerah, salah satunya di Bitung, Sulawesi Utara, para pedagang pasar mulai dari agen beras hingga distributor sayuran sebenarnya memiliki kemampuan finansial untuk membeli kendaraan. Masalahnya sederhana tapi fundamental: mereka tidak tahu caranya.
“Mereka pengen, tapi mereka tidak tau apa itu beli mobil,” kata Sri Agung kepada merdekaoto, Rabu (20/5/2026).
“Bahkan merek pun mereka tidak tahu.”

Salesman yang Turun ke Pasar
Dari sinilah pendekatan unik itu lahir. Tim Daihatsu mulai rutin hadir di pasar-pasar tradisional pada dini hari, jam-jam ketika proses bongkar muat sayuran berlangsung. Di sela-sela aktivitas itu, penjelasan soal kepemilikan kendaraan dilakukan di warung kopi terdekat. Santai, tanpa tekanan, dengan bahasa yang dipahami calon konsumen.
Salah satu tantangan terbesar adalah soal kredit. Para pedagang ini tidak memiliki slip gaji bulanan sebagai bukti penghasilan. Solusinya?
Daihatsu mengajari mereka mendokumentasikan transaksi harian. Setiap kali mereka menjual satu partai kangkung atau beras, dicatat. Dari catatan itulah terbentuk gambaran penghasilan bulanan yang ternyata cukup untuk memenuhi syarat kredit kendaraan.
“Mereka tidak mengerti bahwa pendapatan mereka setiap bulan sebenarnya cukup mumpuni untuk melakukan kredit,” ujar Sri Agung.
Penggilingan yang Berjalan ke Rumah Petani
Cerita paling menarik mungkin datang dari komunitas petani di salah satu daerah. Gran Max yang biasanya dikenal sebagai kendaraan angkut, kali ini dimodifikasi menjadi penggilingan padi berjalan. Mesin penggilingan dipasang langsung di bak Gran Max, memungkinkan alat itu mendatangi ladang-ladang petani, bukan sebaliknya.
Proses ini tidak mudah. Daihatsu harus berkoordinasi dengan pemasok dan karoseri untuk menemukan solusi teknis penambahan daya yang dibutuhkan. Hasilnya melahirkan model bisnis baru berbasis koperasi desa, di mana satu unit Gran Max menjadi aset bersama yang menggerakkan produktivitas petani se-kampung.
“Sekarang penggilingan itu jalan ke rumah-rumah orang yang panen,” kata Sri Agung, menggambarkan transformasi yang dimulai dari percakapan sederhana di lapangan.

Filosofi yang Berbeda
Apa yang dilakukan Daihatsu di wilayah remote bukan sekadar ekspansi pasar. Ini adalah pendekatan yang menempatkan edukasi konsumen sebagai fondasi penjualan. Di daerah-daerah yang belum pernah dijamah tenaga penjual otomotif, justru di situlah loyalitas paling kuat bisa dibangun.
Banyak merek lain mungkin melihat ketidaktahuan konsumen soal kredit atau kepemilikan kendaraan sebagai hambatan. Daihatsu memilih melihatnya sebagai peluang — dan tanggung jawab.
Di balik angka penjualan yang solid dan pangsa pasar yang terjaga, ada ribuan percakapan di warung kopi, catatan transaksi sayuran yang jadi bukti kelayakan kredit, dan salesman yang rela begadang demi menemani petani memanen mimpi memiliki kendaraan pertama mereka.

