MerdekaOto – Ada yang menarik dari cara Ducati memilih merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Bukan dengan pesta nostalgik yang memandang ke belakang, bukan pula dengan manifesto futuristik yang sepenuhnya membuang masa lalu. Ducati memilih keduanya sekaligus, dan menuangkannya dalam 100 unit motor yang secara teknis adalah yang paling ekstrem yang pernah mereka izinkan melintasi jalan raya.
Namanya Superleggera V4 Centenario Tricolore. Dan warna yang menempel di bodinya bukan dipilih secara acak.
Livery itu berasal dari tahun 1986. Dari Ducati 750 F1 yang memenangkan Battle of the Twins di Daytona International Speedway bersama Marco Lucchinelli, pembalap Italia yang gaya hidupnya selegendaris cara dia menikung. Motor itu adalah yang terakhir dari era klasik dua katup Ducati, mesin dengan napas Italia murni sebelum turbulensi teknologi mengubah segalanya. Langka, ikonik, dan kini hampir mustahil ditemukan dalam kondisi utuh.
Ducati mengambil jiwa motor itu dan menuangkannya ke dalam wujud yang sama sekali berbeda.

Superleggera V4 Centenario Tricolore menghasilkan 228 horsepower dari mesin V4 yang arsitekturnya lahir dari pengalaman panjang di MotoGP. Tapi yang lebih mengejutkan bukan angka tenaganya, melainkan apa yang ada di balik roda dan di dalam garpu depannya. Motor ini adalah yang pertama di dunia menggunakan sistem pengereman cakram karbon-keramik pada motor legal jalan raya. Suspensi depannya menggunakan selongsong serat karbon, teknologi yang sebelumnya hanya boleh hidup di lintasan balap paling bergengsi di dunia.
Dengan kata lain, Ducati mengambil dua teknologi yang biasanya hanya bisa dinikmati pembalap profesional dengan lisensi MotoGP, lalu membolehkan siapa saja yang mampu membayarnya mengendarainya pulang lewat jalan biasa.
Hanya 100 unit yang akan diproduksi. Jumlah yang bukan kebetulan, melainkan penghormatan langsung pada satu abad perjalanan.
Peluncuran perdana motor ini berlangsung 17 April di Auditorium Ducati, Borgo Panigale, sebuah kawasan di pinggiran Bologna yang namanya terdengar biasa tapi menyimpan sejarah luar biasa. Di sinilah semua bermula. Di sinilah, dalam konferensi pers yang dihadiri Menteri Perusahaan dan Produk Buatan Italia Senator Adolfo Urso, Presiden Wilayah Emilia-Romagna Michele De Pascale, dan CEO Ducati Claudio Domenicali, Superleggera V4 Centenario Tricolore untuk pertama kalinya diperlihatkan kepada dunia.

Bersamaan dengan motor itu, Ducati juga meluncurkan sesuatu yang berbeda bentuknya tapi sama beratnya secara filosofis: “Manuale del Made in Italy secondo Ducati,” sebuah dokumen yang disusun bersama Rampello & Partners. Buku ini mencoba membukukan apa yang selama ini hanya terasa tapi sulit dijelaskan, yaitu mengapa produk Italia terasa berbeda, dan mengapa Ducati adalah salah satu ekspresi paling murni dari perasaan itu. Desain, ketelitian, teknologi, dan hubungan dengan tanah asal, semuanya coba dirumuskan dalam satu dokumen yang mendapat dukungan dari Komite Leonardo dan Yayasan Altagamma.
Domenicali menyebut keduanya sebagai dua sisi dari koin yang sama. Manual adalah metodenya. Motor adalah bukti bahwa metode itu bukan teori belaka.
Perayaan tidak berhenti di auditorium. Seluruh 2026 dirancang sebagai satu narasi panjang. Pada 9 Mei, #WeRideAsOne mengajak para Ducatisti di seluruh dunia berkendara bersama dalam satu hari global yang dikoordinasikan lewat jaringan klub dan dealer resmi. Ini pembuka menuju World Ducati Week, 3-5 Juli di Sirkuit Misano, Emilia-Romagna.
Di Misano itulah perayaan mencapai titik didih. Lenovo Race of Champions akan menghadirkan Marc Marquez, Francesco Bagnaia, Fabio Di Giannantonio, Franco Morbidelli, Alex Marquez, Fermin Aldeguer, Nicolo Bulega, Iker Lecuona, dan Michele Pirro dalam satu grid. Format baru diberlakukan: latihan dan kualifikasi Sabtu, balapan resmi Minggu siang. Bahkan untuk ukuran acara seremoni, susunan nama itu terasa sangat serius.
Di luar lintasan, ada podcast bersama penulis Bologna Enrico Brizzi, film dokumenter yang dinarasikan aktor Stefano Accorsi, kolaborasi seni dengan Ugo Nespolo, hingga program Expedition Masters yang mengajak pengendara menyusuri jalan-jalan paling indah Italia menggunakan lini Multistrada. Semuanya bermuara ke satu pertanyaan yang sama: bagaimana sebuah merek menceritakan 100 tahun tanpa terdengar seperti sedang berpidato?
Jawaban Ducati tampaknya adalah ini: biarkan motor itu yang bicara. Dan motor itu hanya ada 100 di seluruh dunia, dengan teknologi yang kemarin masih milik MotoGP, mengenakan warna dari kemenangan 1986 yang nyaris terlupakan.
Dialog antara masa lalu dan masa depan, dalam 228 horsepower yang bisa Anda bawa pulang lewat jalan biasa.

