MerdekaOto – Budaya koleksi diecast Formula 1 di Indonesia mengalami pergeseran yang semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Diecast tak lagi diposisikan sebatas hobi santai atau barang pajangan, melainkan menjadi representasi kedekatan emosional penggemar terhadap dunia balap.
Nilai sebuah koleksi kini ditentukan oleh cerita di baliknya, mulai dari pembalap favorit, musim tertentu, hingga momen ikonik yang membentuk sejarah Formula 1.
“Dulu orang membeli diecast karena bentuknya keren. Sekarang orientasinya sudah jauh lebih dalam,” ujar Eris Yang, General Manager Bburago Indonesia kepada merdekaoto, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kolektor saat ini jauh lebih selektif dan terkurasi. “Mereka membeli karena ada keterikatan emosional, entah itu karena pembalap idolanya, musim tertentu, atau momen bersejarah yang ingin mereka abadikan.”

Perubahan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya popularitas Formula 1 di Indonesia. Antusiasme publik yang semakin luas ikut mendorong pertumbuhan pasar koleksi. Diecast pun bertransformasi menjadi medium ekspresi bagi penggemar.
“Koleksi sekarang bukan sekadar benda, tapi bagian dari identitas sebagai fans Formula 1,” kata Eris.
“Ada kebanggaan tersendiri ketika seseorang bisa menunjukkan cerita di balik koleksinya.”
Eris menilai kekuatan terbesar Indonesia terletak pada komunitas kolektornya. Diskusi soal keaslian produk, perbedaan skala, detail livery, hingga sejarah mobil yang direplikasi menjadi hal lumrah di berbagai forum dan pertemuan.
“Komunitas di Indonesia sangat hidup. Mereka kritis, detail, dan mau belajar. Ini yang membuat ekosistem koleksi terus bergerak dan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran ajang seperti Indonesia Diecast Expo yang menjadi titik temu penting bagi para kolektor. “Event seperti ini menegaskan bahwa pasar diecast sudah naik kelas. Ini bukan lagi soal mainan, tapi kultur koleksi yang serius dan semakin matang,” kata Eris.
Di era digital, keterikatan penggemar terhadap Formula 1 semakin kuat. Media sosial, konten harian tim dan pembalap, hingga dinamika kompetisi membuat Formula 1 hadir dalam keseharian fans.
“Formula 1 sekarang tidak hanya ditonton saat race. Setiap hari ada cerita, dan diecast menjadi cara paling personal untuk merayakan cerita itu,” ujar Eris.
Menurutnya, kombinasi popularitas Formula 1, komunitas yang solid, serta kuatnya budaya digital menjadikan Indonesia pasar yang sangat potensial di Asia Tenggara.
“Dengan basis penggemar seperti ini, budaya koleksi Formula 1 di Indonesia akan terus berkembang—lebih matang, lebih beragam, dan tentu semakin bernilai ke depan,” tutup Eris.

