MerdekaOto – Indonesia kini menjelma menjadi salah satu pasar kendaraan listrik paling menjanjikan di kawasan Asia Tenggara. Tak heran, berbagai merek otomotif dunia berbondong-bondong masuk ke Tanah Air untuk memasarkan produk unggulan mereka. Fenomena ini turut mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik murni atau EV di Indonesia secara masif dalam beberapa tahun terakhir.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat lonjakan signifikan pada penjualan wholesales mobil listrik nasional, dari 10.327 unit pada 2022 menjadi 43.193 unit pada 2024, hingga akhirnya menembus 103.931 unit sepanjang 2025. Angka ini semakin diperkuat oleh laporan PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia yang mencatat pangsa pasar EV nasional telah menyumbang 18 persen dari total penjualan mobil baru, melampaui rata-rata kawasan ASEAN yang berada di angka 17 persen. Bahkan, riset Ember Energy mencatat porsi EV Indonesia kini sudah berada di atas pasar Amerika Serikat, sebuah pencapaian yang cukup mengesankan bagi negara berkembang.
Namun di balik derasnya arus investasi tersebut, tidak banyak produsen yang benar-benar berupaya memberikan kontribusi besar bagi perkembangan industri otomotif nasional secara menyeluruh. Sebagian besar masih memposisikan Indonesia sekadar sebagai pasar penjualan gemuk, bukan sebagai mitra strategis dalam membangun pusat manufaktur dan rantai pasok kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.
Di tengah kecenderungan tersebut, VinFast tampil sebagai salah satu pengecualian yang patut diperhitungkan. Produsen mobil listrik asal Vietnam ini mengambil langkah berani dengan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pilar utama manufakturnya, bukan sekadar lokasi pemasaran unit impor semata.
Komitmen ini diwujudkan lewat pembangunan pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat, sekaligus mematok target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup ambisius. VinFast menargetkan TKDN melampaui 40 persen pada 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2029, hingga akhirnya menembus 80 persen mulai 2030. Target bertahap ini menegaskan bahwa VinFast tidak ingin hanya hadir sebagai penjual kendaraan, melainkan turut memberdayakan potensi industri komponen dalam negeri secara berkelanjutan.

Kehadiran fasilitas produksi fisik ini pun menjadi sinyal kuat bagi masyarakat Indonesia bahwa VinFast serius berinvestasi jangka panjang, sekaligus memperkokoh ketahanan rantai pasokan otomotif nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Langkah penyerapan TKDN yang dilakukan VinFast ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, yang menerapkan berbagai insentif serta regulasi ketat guna membangun ekosistem EV dari hulu hingga hilir. Regulasi tersebut dirancang agar pertumbuhan kendaraan listrik tidak semata mendongkrak angka penjualan, tetapi juga turut memajukan industri komponen nasional serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya pernah menegaskan pentingnya integrasi antara pertumbuhan pasar dan penguatan industri pendukung. “Pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia harus diikuti dengan penguatan rantai pasok dalam negeri untuk mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih, sekaligus meningkatkan nilai tambah produksi nasional melalui kemitraan dengan IKM komponen lokal,” terangnya.
Menjawab arahan tersebut, VinFast mengucurkan investasi senilai lebih dari 1 miliar dolar AS yang direalisasikan secara bertahap. Komitmen ini diwujudkan melalui pembangunan fasilitas pabrik perakitan seluas 171 hektare di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi awal mencapai 50.000 unit per tahun. Pabrik ini dilengkapi lini produksi terintegrasi, mulai dari pengelasan bodi, pengecatan, perakitan, hingga tahap tes kualitas berstandar global. Tak berhenti sampai di situ, VinFast juga menyiapkan kawasan pendukung di sekitar Subang untuk merangkul pemasok dan kontraktor lokal, sehingga tercipta efek berganda atau multiplier effect yang nyata bagi perekonomian nasional.
Strategi manufaktur lokal ini pun tidak hanya diterapkan pada satu jenis kendaraan saja, melainkan disiapkan untuk merakit seluruh lini produk VinFast yang dipasarkan di Indonesia. Beberapa model yang masuk dalam rencana perakitan lokal antara lain:
- City car VF 3
- City car VF 5
- SUV VF 6
- SUV VF 7
- MPV listrik terbaru VF MPV 7
Bagi masyarakat Indonesia, komitmen lokalisasi dan target TKDN hingga 80 persen ini membawa dampak positif yang cukup terukur dalam pengalaman kepemilikan kendaraan sehari-hari. Efisiensi biaya produksi yang dihasilkan dari penguatan rantai pasok dalam negeri berpotensi menekan biaya produksi dan distribusi kendaraan, yang pada akhirnya bermuara pada harga jual dan biaya suku cadang yang lebih terjangkau bagi konsumen.
Selain itu, ketersediaan komponen lokal yang melimpah turut memberikan kepastian layanan purnajual yang lebih baik. Proses servis dan perbaikan kendaraan pun menjadi jauh lebih cepat, tanpa harus menunggu lama akibat kendala inden spare part impor seperti yang kerap dialami konsumen kendaraan listrik merek lain. Dengan kata lain, strategi lokalisasi ini menghadirkan nilai efisiensi sekaligus jaminan keamanan investasi jangka panjang bagi para pemilik kendaraan VinFast di Indonesia.
Bagi VinFast sendiri, lokalisasi bukan sekadar upaya memenuhi persyaratan regulasi pemerintah semata. Perusahaan memandang langkah ini sebagai komitmen jangka panjang untuk tumbuh bersama industri otomotif Indonesia secara berkelanjutan. Melalui manufaktur lokal dan peningkatan kandungan komponen dalam negeri yang dilakukan secara bertahap, VinFast berupaya menghadirkan manfaat nyata dan berkelanjutan, tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga bagi pemasok lokal serta perekonomian nasional secara keseluruhan.
Langkah VinFast ini pada akhirnya menjadi contoh bagaimana investasi asing di sektor kendaraan listrik semestinya dijalankan, tidak sekadar mengejar pangsa pasar, tetapi juga turut membangun fondasi industri yang kokoh bagi Indonesia di masa depan.

