MerdekaOto – Wiper, salah satu komponen kendaraan yang sering luput dari perhatian pemilik kendaraan, bahkan dianggap remeh. Padahal, wiper atau pembersih kaca mobil memiliki fungsi besar yang berdampak pada keselamatan berkendara.
Saat kondisi tidak hujan, mungkin wiper dianggap ‘tak ada kerjanya’. Namun saat kondisi hujan, apalagi deras, disitulah fungsinya sangat vital, menyapu air di kaca depan demi mendapatkan pandangan jelas untuk pengemudi mobil.
Namun, saat wiper tidak dalam kondisi maksimal karena beberapa sebab, seperti tak diganti dalam jangka waktu tertentu hingga karetnya getas maka penyapuan air di kaca tak lagi efektif. Akibatnya, kecelakaan lalu lintas bisa terjadi, paling parah, nyawa taruhannya.
Yannes Martinus Pasaribu, Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan sebagian besar keputusan pengemudi bergantung pada informasi visual di depan matanya.
“Pengemudi mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat. Karena itu, visibilitas yang baik menjadi bagian penting dalam membantu pengemudi membaca situasi dan mengambil keputusan lebih awal, jelas Yannes.
Hujan, kata Yannes, berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lebih dari 31 persen, sementara kaca yang kotor dapat menurunkan efektivitas kontrol visual pengemudi.
“Ketika air, kabut, atau sisa sapuan menurunkan kontras pandangan, objek di jalan dapat terdeteksi lebih lambat. Akibatnya, waktu dan jarak yang tersedia bagi pengemudi untuk mengenali risiko dan mengambil keputusan juga menjadi lebih terbatas,” kata dia.

Sementara itu, Griselda Iwandi, Country Sales Director Bosch Mobility Aftermarket, menyampaikan bahwa pengecekan wiper perlu dilakukan secara rutin, tak ubahnya perawatan pada bagian-bagian mobil lainnya.
“Idealnya, wiper diganti setiap enam bulan, tetapi kondisi penggunaan juga perlu diperhatikan. Pengemudi tidak perlu menunggu sampai wiper berhenti berfungsi. Ketika hasil sapuannya mulai menurun, itu sudah menjadi tanda untuk melakukan pemeriksaan dan penggantian,” ujar Griselda.
Ia menambahkan, performa wiper yang maksimal tidak semata ditentukan oleh keadaan karetnya saja. Faktor lain seperti kecocokan produk terhadap tipe kendaraan, cara pemasangan yang benar, hingga orisinalitas barang turut berpengaruh besar terhadap hasil kerja wiper.
“Untuk konsumen agar lebih teliti terhadap spesifikasi produk dan membelinya dari sumber yang resmi, sehingga wiper dapat berfungsi secara maksimal ketika benar-benar dibutuhkan,” imbau Griselda.
Di sisi lain, Yoke Pribadi selaku President Director PT Berkat Otopart Indonesia menilai edukasi perlu mencakup kesesuaian produk, keaslian, serta kanal pembelian yang tepercaya agar konsumen dapat mengambil keputusan yang tepat dan turut mendukung keselamatan di jalan.
Pada akhirnya, menjaga visibilitas saat berkendara bukan sekadar soal mengganti satu komponen kendaraan semata. Hal ini merupakan sebuah kebiasaan sederhana yang menjadi bagian dari persiapan yang lebih menyeluruh sebelum seseorang turun ke jalan raya.
Seperti diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas, dengan jutaan lainnya mengalami cedera. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keselamatan di jalan tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor, melainkan membutuhkan kesiapan yang saling terhubung antara pengemudi, kendaraan, jalan, dan lingkungan perjalanan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Dr. Drs. Aan Suhanan, M.Si., menekankan bahwa budaya keselamatan tidak berhenti ketika kendaraan dinyatakan lulus uji tipe atau laik jalan. Keselamatan harus dijaga sepanjang siklus hidup kendaraan, mulai dari desain, produksi, registrasi, hingga masa operasional.
Hal tersebut disampaikan melalui Kasubdit Uji Kendaraan Bermotor Kementerian Perhubungan RI, Heri Prabowo, dalam diskusi memperingati 100 tahun inovasi wiper Bosch di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keselamatan jalan bertumpu pada tiga hal: kendaraan yang laik, pengemudi yang kompeten, serta infrastruktur dan ekosistem yang mendukung. Ketiganya harus berjalan bersama, dengan sinergi pemerintah, industri, dan pengguna jalan sebagai kuncinya.
“Kegiatan seperti Bosch Safety Driving Campaign ini merupakan salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan industri dapat memperkuat edukasi keselamatan kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, mengamini bahwa teknologi memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan, tetapi manfaatnya baru benar-benar terasa ketika inovasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata manusia.
“Bagi Bosch, teknologi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru. Melalui prinsip Invented for Life, kami ingin memastikan bahwa inovasi memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dalam mobilitas, hal tersebut berarti menghadirkan teknologi yang membantu membuat perjalanan menjadi lebih aman, sekaligus dapat diandalkan dalam berbagai kondisi,” ujar Pirmin.
Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan Bosch di industri otomotif selama lebih dari satu abad. Tahun 2026 menandai 100 tahun teknologi wiper Bosch, yang menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kebutuhan sederhana dalam berkendara terus mendorong inovasi dari waktu ke waktu.
“Selama 100 tahun, kebutuhan pengemudi mungkin berkembang seiring perubahan kendaraan dan teknologi, tetapi satu hal tetap sama: manusia membutuhkan teknologi yang dapat diandalkan untuk membantu mereka berkendara dengan lebih aman. Karena itu, inovasi bagi kami bukan hanya tentang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang memahami bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat bagi penggunanya,” tambah Pirmin.

