MerdekaOto – Di balik setiap perayaan 17 Agustus, ada kisah yang jarang mendapat sorotan: kendaraan-kendaraan yang menemani para pendiri bangsa melewati masa paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Bukan sekadar alat transportasi, mobil-mobil ini menjadi saksi bisu dari rapat rahasia, ancaman pembunuhan, hingga hubungan diplomatik pada masa awal republik berdiri.
Ironisnya, ketika proklamasi dikumandangkan pada 1945, Presiden Soekarno bahkan belum memiliki kendaraan dinas resmi. Solusi datang dari cara yang tak biasa. Sudiro, seorang aktivis dari kelompok Menteng 31, mengetahui ada sebuah mobil Buick milik pejabat Jepang yang menjabat kepala jawatan kereta api.
Mobil yang ditemukan Sudiro pada 1945 di belakang kantor Departemen Perhubungan itu adalah Buick 8 Limited Edition keluaran 1939, satu dari hanya 1.451 unit yang pernah diproduksi pabrikan. Dengan membujuk sang sopir agar bersedia pulang kampung, Sudiro membawa kabur mobil tersebut dan mempersembahkannya kepada Soekarno.
Berikut deretan kendaraan yang mengiringi perjalanan para tokoh bangsa di masa-masa awal kemerdekaan:
- Buick 8 “Rep-1”, mobil kepresidenan pertama Soekarno. Mobil bermesin delapan silinder berkapasitas 5.247 cc ini disematkan pelat nomor Rep-1 dan menemani Soekarno terutama sepanjang masa mempertahankan kemerdekaan antara 1945 hingga 1949. Secara fisik, tampilannya berwarna hitam dengan gril besar di bagian depan serta interior berlapis kain cokelat.
- Chrysler Imperial, kendaraan asal Amerika Serikat yang juga rutin digunakan Soekarno. Limusin berpintu empat ini mengusung mesin 5,2 liter bertenaga 130 tenaga kuda dengan transmisi manual tiga percepatan. Mobil ini punya catatan kelam: kaca belakang dan spakbornya rusak akibat lemparan granat dalam peristiwa Cikini pada 1957, sebuah upaya percobaan pembunuhan terhadap sang presiden.
- DeSoto “Rep-2”, kendaraan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Mobil keluaran 1942 ini merupakan pemberian pengusaha Djohan Djohor, dan turut melindungi Hatta dari ancaman pendudukan Jepang baik di Jakarta maupun Yogyakarta. Yang menarik, mobil ini sempat berpindah tangan dan dijadikan angkutan umum sebelum dibeli kembali oleh Hatta sendiri dan direstorasi, sebuah bentuk penghormatan pribadi terhadap kendaraan yang pernah menyelamatkannya.
- GAZ-13 Chaika, hadiah diplomatik dari Uni Soviet yang menandai kedekatan Indonesia dengan blok timur pada dekade 1950 hingga 1960-an. Mobil mewah ini diproduksi di pabrik Gorky, Nizhny Novgorod, pada 1959, dengan mesin V8 berkapasitas 5,5 liter dan transmisi otomatis tiga percepatan yang sanggup melaju hingga 160 kilometer per jam.
Kisah di balik Buick 8 bahkan pernah diceritakan langsung oleh Soekarno sendiri. Dalam buku “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis Cindy Adams, Soekarno menyebut kehadiran Buick 8 sebagai hasil kepahlawanan Sudiro bersama sang sopir, sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa mobil ini bukan sekadar barang mewah, melainkan bagian dari perjuangan itu sendiri.

Jejak fisik dari mobil-mobil bersejarah ini masih bisa disaksikan hingga kini. Rep-1 tersimpan di Museum Joang 45, Jakarta Pusat, berdampingan dengan Rep-2 milik Hatta dan sebuah Imperial yang dulu dipakai keluarga Soekarno. Museum ini menjadi ruang di mana generasi masa kini dapat melihat langsung logam dan cat yang pernah membawa para pendiri bangsa melintasi jalan-jalan yang jauh dari aman.
Tradisi mobil sebagai bagian dari identitas kepresidenan pun berlanjut seiring pergantian era. Presiden kedua, Soeharto, misalnya, mengganti mobil kepresidenan dengan Cadillac DeVille Series 70 Fleetwood Limousine pada 1966, sebelum akhirnya beralih ke Mercedes-Benz G-Class menjelang akhir masa pemerintahannya. Perubahan ini menunjukkan bagaimana pilihan kendaraan kenegaraan turut merekam pergeseran zaman dan selera penguasa.
Bagi yang penasaran ingin melihat langsung, kendaraan-kendaraan tersebut masih tersimpan rapi di Museum Joang 45, kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

