MerdekaOto – Pemerintah serius menggarap ketertinggalan talenta digital Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif meluncurkan program beasiswa Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026 pada Selasa (14/4) di Auditorium Gedung Film, Jakarta. Sebuah langkah konkret untuk menutup celah kompetensi yang kian menganga di era Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.
Programnya tidak main-main. Sebanyak 2.200 peserta akan dilatih secara intensif menguasai AI untuk efisiensi dan produktivitas kerja, dengan kurikulum berstandar global yang dikembangkan bersama Dicoding Indonesia. Bukan sekadar teori, peserta akan belajar langsung cara memilih alat produktivitas yang tepat, menguasai teknik prompt engineering, hingga membangun kesadaran etis dalam menggunakan teknologi.
Urgensinya jelas. Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2025 mencatat bahwa 36 persen SDM Indonesia membutuhkan pelatihan baru: 30 persen perlu upskilling dan 22 persen butuh pelatihan ulang total. Tanpa intervensi serius, Indonesia berisiko menjadi penonton di tengah revolusi teknologi yang sedang bergulir.

“Program BDT 2026 dirancang untuk menjawab persoalan skill gap dan talent gap sekaligus memastikan para peserta memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi, termasuk AI,” ujar Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf, Muhammad Neil El Himam.
Neil menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan teknis biasa, melainkan bagian dari strategi besar menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Dengan potensi yang ada, ia optimistis Indonesia bisa memimpin Asia Tenggara dalam akselerasi penguasaan AI, asalkan talenta digitalnya benar-benar siap.
Rekam Jejak Sebelas Tahun
Kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan Dicoding bukan hubungan baru. Kemitraan keduanya telah berjalan sejak 2016 dan mencatatkan dampak yang terukur: Rp 306 miliar dampak ekonomi, 15.168 sertifikasi di bidang IT, serta lebih dari 215.000 talenta digital yang telah mendapat penguatan kompetensi.
CEO Dicoding Narendra Wicaksono menyebut platform mereka kini menampung 1,3 juta developer terdaftar, dengan sekitar 879 ribu di antaranya pernah menerima beasiswa. “Dicoding punya misi mengembangkan talenta Indonesia pada skala global,” katanya.

Yang menarik adalah data internal Dicoding soal adopsi AI di kalangan pengembang. Survei mereka menunjukkan 86 persen developer sudah aktif menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, dan 94 persen dari mereka mengaku merasakan lonjakan produktivitas yang signifikan. Angka ini memperkuat argumen bahwa penguasaan AI bukan lagi keunggulan kompetitif melainkan kebutuhan dasar.
“Dicoding menyambut positif inisiatif BDT 2026 yang akan melatih peserta menyederhanakan proses kerja menuju utilisasi AI yang lebih terukur dan berdampak,” tambah Narendra.
Belajar Mandiri, Kurikulum Industri
Format BDT 2026 mengusung pendekatan online self-paced melalui platform LMS Dicoding, sehingga peserta bisa belajar sesuai ritme masing-masing tanpa meninggalkan pekerjaan atau studi. Kurikulumnya mengombinasikan hard skill teknis dengan soft skill interpersonal, dua sisi yang sama-sama dibutuhkan industri kreatif saat ini.
COO Dicoding Dimas Catur Wibowo menekankan bahwa peserta tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan teoritis. “Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung melalui kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Program ini menarget pegiat dari 17 subsektor ekonomi kreatif, mulai dari desainer, kreator konten, pengembang aplikasi, hingga pelaku industri film dan musik, yang ingin meningkatkan kapasitas mereka dengan memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
Peluncuran program turut dimeriahkan talkshow yang menghadirkan Director of Product Halodoc Kresna Dewantara Siahaan dan Data Analytics Associate PwC Indonesia Albert Salomo, yang berbagi perspektif tentang bagaimana AI tengah mengubah cara kerja di industri nyata.
Pendaftaran BDT 2026 dibuka hingga 31 Mei 2026 melalui bdt.dicoding.com. Dengan kuota 2.200 peserta dan beasiswa penuh, kesempatan ini layak diprioritaskan bagi siapa pun yang ingin memastikan relevansi diri di pasar kerja yang kian digerakkan oleh kecerdasan buatan.

