MerdekaOto – Survei OJK tahun 2025 memotret sesuatu yang tidak mengejutkan tapi tetap mengkhawatirkan: kelompok yang paling membutuhkan perlindungan keuangan justru paling sedikit memahaminya. Perempuan, petani, nelayan, masyarakat perdesaan, penyandang disabilitas, semuanya berada di bawah rata-rata nasional dalam hal literasi dan inklusi keuangan.
Di sinilah Asuransi Astra memilih masuk, bukan dengan iklan, tapi dengan turun langsung.
Sepanjang Mei hingga Juni 2026, perusahaan ini menggelar program LENTERA, singkatan dari Literasi Keuangan Terpadu Asuransi Astra, secara serentak di puluhan kota Indonesia. Dari Medan hingga Manado, dari Padang sampai Batam, program ini menyentuh lebih dari 1.066 peserta di 22 kota termasuk Denpasar, Yogyakarta, Balikpapan, Makassar, Palembang, dan Salatiga.
Angka itu bukan sekadar laporan aktivitas korporat. Di baliknya ada pendekatan yang lebih cermat dari sekadar seminar keuangan di gedung perkantoran.
LENTERA dirancang untuk menjangkau kelompok yang secara historis paling jarang masuk dalam radar edukasi keuangan formal: pelajar SMK, pelaku usaha mikro, pekerja migran, ibu rumah tangga, komunitas petani dan nelayan, hingga masyarakat di wilayah 3T, tertinggal, terdepan, dan terluar. Masing-masing kelompok didekati dengan cara yang berbeda, disesuaikan dengan konteks kehidupan dan kebutuhan finansial mereka yang tidak sama satu sama lain.
Program ini juga berjalan selaras dengan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang diinisiasi OJK, sebuah inisiatif yang mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama memperluas jangkauan literasi keuangan nasional.
Salah satu implementasi yang menarik berlangsung di SMA Negeri 1 Salatiga pada 18 Juni 2026. Kegiatan di sana tidak hanya berisi sesi edukasi soal pengelolaan keuangan dan cara mengenali modus penipuan finansial yang kian marak. Kepala BAPPEDA Kota Salatiga, Dr. Siswo Hartanto, hadir langsung sebagai bentuk dukungan sinergi antara program korporat dan agenda pembangunan daerah, sebuah kombinasi yang tidak selalu terjadi dalam program-program serupa.
Asuransi Astra juga membawa sesuatu yang konkret ke sekolah itu. Lima siswa menerima beasiswa pendidikan. Sekolah mendapat fasilitas untuk program Adiwiyata: mural edukatif, ring basket, tempat sampah terpilah, penampungan sampah plastik, dan alat press botol plastik. Siswa juga mendapatkan perlindungan melalui produk Garda Me Micro, asuransi mikro yang memang dirancang untuk segmen masyarakat dengan kebutuhan perlindungan dasar namun selama ini sulit mengakses produk asuransi konvensional.
Penyaluran Garda Me Micro tidak hanya terjadi di Salatiga. Di berbagai titik pelaksanaan LENTERA 2026, produk ini disalurkan sebagai bagian dari komitmen inklusi keuangan yang lebih nyata, bukan sekadar edukasi tanpa akses.
“Memperluas wawasan keuangan dan memiliki akses keuangan yang baik akan membentuk ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Djoko Nugroho Anindito, SVP Governance, Risk Management, Compliance & Corporate Secretary Asuransi Astra. Ia menambahkan bahwa harapannya masyarakat semakin siap menghadapi tantangan ekonomi dan memanfaatkan peluang dengan lebih tenang dan percaya diri.
Ada logika sederhana yang bekerja di sini. Seseorang yang memahami cara kerja tabungan, asuransi, dan pinjaman akan membuat keputusan yang berbeda dibanding yang tidak paham. Mereka tidak akan mudah terjerat pinjaman online ilegal, tidak akan mengabaikan proteksi jiwa karena mengira asuransi terlalu mahal, dan lebih mungkin mengelola usaha kecilnya dengan fondasi yang lebih sehat.
Masalahnya, edukasi keuangan selama ini cenderung bergerak di lingkaran yang sudah terdidik. Seminar-seminar finansial lebih sering dihadiri mereka yang sudah memiliki rekening bank, sudah punya kartu kredit, dan sudah tahu istilah-istilah dasar. Sementara yang benar-benar membutuhkan pemahaman itu, petani di pelosok, ibu rumah tangga tanpa penghasilan formal, penyandang disabilitas yang kesulitan mengakses layanan konvensional, justru paling jarang terjangkau.
LENTERA mencoba membalik pola itu. Bukan menunggu masyarakat datang ke kantor cabang, tapi membawa programnya ke titik-titik di mana kelompok prioritas itu berada.
Apakah satu sesi edukasi cukup mengubah perilaku finansial seseorang? Tentu tidak. Tapi ini adalah langkah yang dibutuhkan agar percakapan soal keuangan tidak lagi menjadi hak eksklusif mereka yang sudah beruntung mendapat akses sejak awal. Dan ketika lebih banyak orang paham cara mengelola uang, melindungi diri dari risiko, dan mengakses layanan keuangan yang tepat, dampaknya tidak berhenti di individu, ia menjalar ke keluarga, komunitas, dan akhirnya ke ekonomi yang lebih tangguh secara kolektif.

