MerdekaOto – Selama bertahun-tahun, nama Chery mungkin tidak sekeras para raksasa otomotif Jepang, Eropa, atau Amerika. Namun dalam beberapa tahun terakhir, brand ini seperti melesat keluar dari bayangan stigma lama. Pencapaian terbaru di ajang Automotive Performance, Execution and Layout (APEAL) 2025 yang digelar J.D. Power di Tiongkok menjadi bukti nyata. Chery bukan hanya mencetak skor tinggi dengan 760 poin, melampaui rata-rata industri, tetapi juga menempati posisi kedua di pasar mainstream sekaligus peringkat pertama untuk merek independen Tiongkok. Ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa standar kualitas dan kepuasan konsumen dari brand ini kini sejajar, bahkan bisa menyaingi para pemain global.
Lebih menarik lagi, dua SUV andalannya, TIGGO 7 Plus dan TIGGO 8 Plus, keluar sebagai juara di segmen masing-masing. Bagi pecinta otomotif, kemenangan di kelas mid-size SUV adalah panggung besar, karena segmen ini adalah jantung pasar keluarga urban yang menuntut efisiensi, kenyamanan, dan teknologi. Tidak mudah mendominasi area ini, kecuali memang punya kombinasi produk yang solid.
J.D. Power sendiri dikenal sangat ketat dalam risetnya. Survei APEAL edisi ke-23 ini melibatkan lebih dari 20 ribu pengguna mobil baru, dan indikator penilaiannya tidak hanya menyentuh aspek teknis, tapi juga pengalaman emosional. Dari aksesibilitas layanan, kualitas tenaga penjual, hingga kenyamanan berkendara setelah penggunaan beberapa bulan, semua ditimbang. Fakta bahwa Chery bisa melesat dari posisi kelima tahun lalu ke peringkat kedua di pasar mainstream 2025 jelas menggambarkan konsistensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Prestasi ini juga merefleksikan performa bisnis. Pada paruh pertama 2025, penjualan Chery menembus 1,26 juta unit, naik 14,5% dibanding periode sama tahun lalu. Lebih dari 550 ribu unit diekspor ke berbagai negara, yang artinya ada satu mobil Chery dikapalkan ke luar negeri setiap 29 detik. Angka ini menegaskan status Chery sebagai eksportir kendaraan nomor satu Tiongkok selama 22 tahun berturut-turut. Di saat yang sama, penjualan kendaraan energi baru (NEV) mereka melonjak hampir dua kali lipat, memperlihatkan kesiapan Chery di era elektrifikasi.
Namun, yang membuat pencapaian ini lebih bernilai bukan hanya soal kuantitas. Pada 2024, Chery sukses meraih Triple Crown J.D. Power—APEAL, Initial Quality Study (IQS), dan Sales Satisfaction Index (SSI). Kini, mereka kembali mempertahankan momentum di 2025 dengan tetap memimpin di APEAL dan SSI. Konsistensi semacam ini biasanya hanya dimiliki brand dengan fondasi riset dan inovasi yang kuat, bukan pabrikan yang sekadar mengejar angka penjualan.

Tak heran jika posisi Chery di Fortune China 500 dan Fortune Global 500 juga ikut melesat. Tahun ini, Chery naik ke peringkat 59 di daftar nasional dan menempati posisi 233 di daftar global, naik 152 peringkat sekaligus menjadi produsen otomotif dengan lompatan tercepat. Dalam konteks global, ini setara dengan pesan: Chery bukan lagi “pemain baru dari Asia”, tapi kandidat serius dalam peta persaingan dunia.
Semua itu ditopang oleh investasi besar di bidang teknologi. Chery rutin memperkenalkan inisiatif seperti Night of Intelligence, Night of Hybrid, dan Night of Safety, yang memperlihatkan fokus mereka pada kecerdasan buatan, elektrifikasi, dan keselamatan. Hingga kini, lebih dari 40 ribu paten telah mereka ajukan dengan 25 ribu sudah mendapat persetujuan. Artinya, setiap produk yang lahir bukan sekadar ikut tren, tetapi membawa jejak inovasi nyata. Di Eropa, salah satu pasar dengan regulasi otomotif paling ketat, Chery bahkan mampu menjual lebih dari 10 ribu unit per bulan. Sebuah pencapaian yang sulit dibayangkan sepuluh tahun lalu.
Di Indonesia, kabar ini punya resonansi tersendiri. Brand asal Tiongkok seringkali dihadapkan pada skeptisisme soal durabilitas, layanan purna jual, atau nilai jual kembali. Tetapi dengan catatan global seperti ini, Chery berpeluang besar mengubah cara pandang konsumen lokal. Ketika data J.D. Power, Fortune, hingga pertumbuhan pasar Eropa berpihak pada mereka, maka konsumen di tanah air bisa lebih percaya diri melihat Chery bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilihan rasional.
Bagi industri otomotif secara keseluruhan, kisah Chery adalah studi menarik tentang bagaimana sebuah brand bisa menembus bias pasar lewat konsistensi. Dari sekadar merek domestik dengan harga kompetitif, mereka kini menjelma sebagai simbol transisi teknologi, keberlanjutan, sekaligus globalisasi produk Tiongkok. Prestasi di APEAL 2025 hanyalah salah satu bab, tapi cukup kuat untuk menandai bahwa arah yang mereka tempuh sudah berada di jalur yang benar.
Dan pada akhirnya, mungkin inilah yang membuat cerita Chery menarik: bukan hanya soal SUV yang meraih penghargaan, bukan sekadar angka penjualan fantastis, tetapi bagaimana sebuah merek mengubah persepsi dunia dengan cara yang bertahap, konsisten, dan kini mulai menuai hasilnya.

