MerdekaOto – Di sebuah sekolah kejuruan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ratusan siswa belajar beternak unggas bukan sekadar untuk nilai — melainkan untuk bekal hidup. Kini, aktivitas mereka mendapat dukungan nyata dari PT Astra Daihatsu Motor (ADM), yang menyerahkan satu unit Gran Max Pick Up sebagai kendaraan operasional kepada SMK Negeri 1 Pandawai pada 2 Maret 2026.
Penyerahan dilakukan melalui Yayasan Astra – Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YA-YPAMDR), dan dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, kepala sekolah, serta perwakilan ADM. Meski terlihat sederhana, donasi sebuah pikap bisa berarti sangat banyak di wilayah yang infrastrukturnya belum semapan kota besar.
Alasannya konkret. SMK Negeri 1 Pandawai memiliki jurusan Agribisnis Ternak Unggas (ATU) yang diikuti 100 siswa. Mereka tidak hanya belajar di kelas — mereka juga mengelola kandang berkapasitas ribuan ekor unggas sebagai laboratorium hidup sekaligus ladang kewirausahaan berbasis potensi lokal. Hasilnya perlu didistribusikan, dan selama ini keterbatasan transportasi menjadi hambatan nyata. Gran Max Pick Up hadir untuk menjawab kebutuhan itu.

Ferry Nugroho, General Affairs Division Head ADM, menegaskan bahwa kontribusi semacam ini adalah bagian tak terpisahkan dari cara perusahaan memandang keberlanjutan. “Keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan pengembangan bisnis, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Kepala SMK Negeri 1 Pandawai, Dominik Wuta Tenggu, mengaku bersyukur. Sekolahnya kini mengampu 288 siswa dalam 13 rombongan belajar dari berbagai jurusan — dan kehadiran kendaraan operasional ini, kata dia, akan langsung terasa manfaatnya bagi siswa maupun warga sekitar.
Ketua YA-YPAMDR Gunawan Salim melihat kolaborasi ini sebagai penguat langkah yayasan dalam mendampingi sekolah-sekolah binaan di daerah terpencil. “Dukungan dari PT Astra Daihatsu Motor membantu kami menjangkau lebih banyak program pemberdayaan secara efektif,” katanya.
Sumba Timur bukan wilayah yang mudah dijangkau, dan program pemberdayaan di sana kerap membutuhkan lebih dari sekadar niat baik — ia butuh alat yang tepat. Dalam hal ini, sebuah pikap mungkin terdengar biasa, tapi di tangan seratus siswa yang sedang belajar berwirausaha, ia bisa menjadi roda penggerak yang sesungguhnya.

