MerdekaOto – Lebih dari dua dekade absen, Honda Prelude akhirnya kembali ke jalanan Indonesia, dan kali ini ia datang dengan wajah yang sama sekali berbeda: sebuah sport hybrid yang membawa filosofi lama ke era baru elektrifikasi.
PT Honda Prospect Motor (HPM) secara resmi menyerahkan unit perdana Honda Prelude kepada 20 konsumen pertama di Vault Automotive Museum, Jakarta Selatan. Di antara nama-nama itu ada Fitra Eri, YouTuber otomotif yang kiprahnya di dunia review mobil sudah lama dikenal publik Indonesia.
Kehadirannya di antara pemilik pertama Prelude bukan kebetulan, melainkan cerminan dari segmen pasar yang dibidik Honda: mereka yang mencintai mobil bukan sekadar sebagai alat transportasi, tetapi sebagai pengalaman berkendara.
Bagi Honda sendiri, kembalinya Prelude bukan sekadar urusan nostalgia. President Director HPM, Masanao Kataoka, menyampaikannya dengan lugas: “Prelude bukan sekadar kembalinya sebuah nama ikonik, tetapi pengingat bahwa teknologi seharusnya tidak menghilangkan rasa di balik kemudi.” Pernyataan itu merangkum apa yang coba ditawarkan Honda di tengah gelombang elektrifikasi yang semakin deras, di mana banyak merek justru kehilangan karakter saat beralih ke motor listrik.

Respons pasar terhadap comeback ini terbilang luar biasa. Sejak pemesanan dibuka, lebih dari 280 unit sudah dipesan, melampaui total alokasi yang tersedia untuk tahun ini. Yang menarik, pesanan tidak hanya datang dari kota-kota besar di Jawa. Palembang, Lampung, Bali, Lombok, Banjarmasin, hingga Makassar ikut menyumbang angka pemesanan. Rentang usia pemesannya pun beragam, dari generasi yang masih ingat Prelude orisinal di era 1980-an hingga kalangan muda yang mengenal nama ini dari laman Wikipedia dan konten otomotif digital.
Apa yang membuat Prelude generasi terbaru layak dipertimbangkan secara teknis? Salah satu fitur yang paling disorot adalah S+ Shift, sebuah sistem yang dirancang untuk menghadirkan sensasi berkendara sporty dalam platform hybrid. Berbeda dari kebanyakan mobil hybrid yang terasa steril dan terputus dari pengemudinya, S+ Shift diklaim mampu memberikan respons akselerasi yang lebih presisi sekaligus mempertahankan keterlibatan emosional antara pengemudi dan kendaraan. Ini bukan sekadar fitur, melainkan pernyataan posisi Honda di tengah debat panjang soal apakah elektrifikasi harus mengorbankan kesenangan berkendara.
Soal ketenangan purna jual, Honda menyertakan garansi kendaraan tiga tahun atau 100.000 kilometer, serta garansi baterai tegangan tinggi delapan tahun atau 160.000 kilometer. Paket perawatan Prima+ selama empat tahun atau 50.000 kilometer juga tersedia, dan seluruh layanan itu ditopang jaringan dealer resmi yang diklaim telah siap menangani kendaraan elektrifikasi.
Acara serah terima ini sekaligus menjadi pembukaan Honda Culture, sebuah pameran kurasi di Vault Automotive Museum yang menampilkan perjalanan panjang Honda melalui berbagai model ikonik lintas generasi. Dari mobil balap hingga kendaraan sipil yang membentuk identitas merek, pameran ini dirancang sebagai narasi visual tentang bagaimana Honda membangun filosofinya selama puluhan tahun.
Kataoka kembali menegaskan dalam sambutannya bahwa warisan bagi Honda bukan semata kenangan manis. “Heritage adalah bukti dari apa yang mampu diciptakan sebuah merek secara konsisten di masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang terdengar seperti janji, sekaligus tantangan yang Honda pasang sendiri di depan publik.
Kembalinya Prelude ke Indonesia memang bukan sekadar peluncuran produk biasa. Ini adalah taruhan Honda bahwa di era kendaraan listrik yang semakin homogen, masih ada ruang dan pasar untuk mobil yang berani bicara soal emosi dan koneksi antara mesin dan manusia di balik setirnya.

