MerdekaOto – Di Pantai Padang Galak, Bali, ribuan orang berbaur dalam sebuah perayaan unik yang setiap tahunnya selalu ditunggu. Custom War Bali 2025 kembali digelar, menampilkan perpaduan antara dunia custom motorcycle, musik, seni, hingga balapan pantai yang jadi magnet utama. Dari sekadar festival, ajang ini telah tumbuh menjadi ruang temu berbagai elemen: builder kreatif, komunitas motor lintas kota, wisatawan mancanegara, hingga brand-brand besar yang ingin merasakan denyut nadi kultur roda dua di Indonesia.
Tahun ini, ada satu nama yang terasa menonjol: IPONE. Brand pelumas premium asal Prancis itu tak hanya datang sebagai exhibitor, tetapi juga mendukung penuh ajang beach race—salah satu pertunjukan paling ikonik di Custom War. Kehadirannya bukan sekadar soal branding, melainkan upaya membangun ikatan lebih dalam dengan komunitas motor yang sudah lama menjadi bagian dari identitas IPONE di dunia.
Bagi sebagian orang, pelumas mungkin hanya cairan teknis yang bekerja diam-diam di balik mesin. Namun IPONE melihatnya dari perspektif berbeda. Sejak awal berdiri, brand ini melekat erat dengan motorsport dan custom culture global. Filosofinya jelas: oli bukan hanya soal performa, melainkan juga ekspresi gaya hidup. Maka ketika IPONE memutuskan hadir di Custom War Bali, itu berarti mereka ingin menempatkan diri di jantung komunitas, berdiri sejajar dengan para rider, builder, dan pecinta motor yang menjadikan dunia roda dua sebagai bagian dari hidup sehari-hari.
Welmart Purba, Managing Director IPONE Indonesia, menegaskan alasan di balik langkah itu. Menurutnya, Custom War adalah wadah paling tepat untuk mendekat ke komunitas. “Keterlibatan IPONE di Custom War Bali merupakan komitmen nyata kami dalam mendukung perkembangan kultur custom di Indonesia. Lahir dan besar di dunia balap serta custom culture global, IPONE melihat event ini sebagai wadah tepat untuk lebih dekat dengan komunitas motor, builder, dan lifestyle roda dua,” ungkapnya.
Pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Sejak lama, IPONE memang identik dengan dunia balap internasional. Namun, daya tarik terbesarnya justru muncul ketika brand ini merangkul sisi artistik dan ekspresif dari dunia motor. Di kancah global, IPONE sering hadir di festival-festival custom yang merayakan kreativitas, bukan hanya kecepatan. Kehadirannya di Bali pun terasa alami, karena Custom War adalah kombinasi sempurna antara adrenalin balapan dan estetika budaya.

Suasana di Pantai Padang Galak pada hari itu menggambarkan dengan jelas alasan IPONE memilih panggung ini. Builder dari berbagai kota menampilkan karya motor custom mereka—mulai dari café racer minimalis hingga chopper dengan detail artistik. Di sisi lain, dentuman musik dan aroma khas pantai menciptakan atmosfer yang jauh dari kaku, lebih menyerupai pesta budaya. Lalu, ketika balapan pantai dimulai, sorak-sorai pengunjung semakin menegaskan bahwa motor bukan sekadar kendaraan. Ia adalah medium kebersamaan.
IPONE masuk ke dalam narasi itu dengan cara yang nyaris organik. Alih-alih hanya memamerkan botol oli, mereka ikut menyatu dalam ritme acara. Dukungan pada beach race membuat nama IPONE disebut bersamaan dengan momen yang paling ditunggu pengunjung. Di situ, brand ini berhasil membangun asosiasi emosional: oli premium yang mendukung bukan hanya performa mesin, tapi juga kultur motor itu sendiri.
Di sela-sela acara, IPONE juga memperkenalkan lini produk terbaru untuk pasar Indonesia. Namun, yang menarik adalah bagaimana mereka mengemasnya. Bukan dengan jargon teknis yang sulit dicerna, melainkan dengan narasi yang dekat dengan kehidupan rider. Bahwa oli yang dipakai sehari-hari bisa punya DNA balap, bisa menjadi bagian dari cerita perjalanan, dan bisa dipercaya karena lahir dari kultur yang sama.
Bagi komunitas motor, langkah ini punya arti penting. Selama ini, ada jarak antara brand global dengan komunitas lokal. IPONE mencoba meruntuhkan jarak itu dengan hadir di ruang yang sama, menyapa langsung para pengendara, dan menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar produk impor yang masuk ke pasar. Mereka ingin dilihat sebagai bagian dari kultur yang berkembang di Indonesia.
Dalam dunia otomotif, pendekatan semacam ini cukup langka. Banyak brand memilih jalur promosi formal atau sekadar mengandalkan digital marketing. Namun IPONE memilih panggung yang lebih emosional. Dengan hadir di Custom War Bali, mereka memperlihatkan bahwa pelumas bisa punya cerita, bisa punya identitas, bahkan bisa ikut merayakan kebebasan berekspresi di atas roda dua.
Welmart menutup keterlibatan IPONE di acara ini dengan kalimat yang merangkum semuanya. “Dengan mendukung balapan pantai sekaligus memperkenalkan lini produk terbaru, IPONE ingin menjadi bagian dari perjalanan kreatif builder, rider, dan komunitas motor di Indonesia.” Sebuah pernyataan yang tidak berlebihan, karena hari itu IPONE memang bukan sekadar brand tamu, melainkan bagian dari festival itu sendiri.
Jika ditarik lebih jauh, strategi ini juga mencerminkan perubahan besar dalam cara brand otomotif berkomunikasi dengan pasar. Di era di mana konsumen semakin mencari pengalaman ketimbang sekadar produk, IPONE memberikan contoh nyata. Bahwa oli bisa punya narasi, bisa menempel pada emosi, dan bisa menemukan panggungnya di sebuah festival pantai di Bali.
Custom War Bali 2025 pun menorehkan satu catatan tambahan dalam sejarah IPONE di Indonesia. Dari pantai, dentuman musik, karya builder, hingga debu yang beterbangan saat balapan, semuanya menjadi bagian dari cerita yang lebih besar: bagaimana sebuah pelumas asal Prancis menyatu dengan kultur motor Indonesia. Dan mungkin, di sanalah letak kekuatan sejati sebuah brand—saat ia berhenti menjual, dan mulai menjadi bagian dari kehidupan orang-orang yang menggunakannya.

